Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Tuesday, December 15, 2015

Friends

Friends..........
Didn't you remember,
Our promise and our ideas ?
That we had made
While our first step in this gate
A gate in Smanstar Lakosta
The gate that we pass everyday
There we carve our promise, "always do the best"
There we carve our ideas, too
No matter what your ideas are
But the pain you got to reach it, is the point

Friends..........
Don't you remember,
Our moments together ?
In this school
In Smanstar Lakosta
Happiness, sadness, all we've felt
But, Loneliness we've never felt
Million of laughters came out of our mouth
Million of tears, too, dropped from our eyes
No matter its laughter or tears
But we're one and always be the one
Nothing can separate us

Friends..........
Will you remember,
The friendship we've made ?
That we've kept these three years
In Smanstar Lakosta
As later you weren't here anymore
And you weren't with me anymore
Because all of us will fly away
Flying to the sky, through the moon,
reaching independence in the galaxy
And find our own star
No matter which star it is
Friends, promise to me
You'll never forget me and everyone

Created by: Tomi Tri Anggara
XII IIA 1 (Disakarida)

This poem brings me back to the time, about 2 years ago, when I was still sitting in a classroom, in Senior High School. It was the time when I was still a young boy with a high enthusiasm to the world.

Perjalanan Hidup (Jarum Jam versi awal)



Perjalanan Hidup
 
Di suatu malam yang sunyi
Diterpa semilir angin malam
Yang lewat celah jendelaku
Menyentuh mesra pipiku
Dibawah sinar lampu neon
Aku terjaga
Seketika itu jam dinding berdetak
Jarum yang berputar bersama berjalannya waktu
Membuaiku bersamanya
Lantas mataku terpaku
Pada jarum yang berputar harmonik itu
Lewatlah sesuatu di ruang imajiku
Pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah singgah sebelumnya
Akankah jarum itu ‘kan terus berputar ?
Akankah detak-detaknya ‘kan selalu terdengar ?
Ah tidak............
Permulaan akan selalu menemui yang namanya akhir
Nol akan berakhir dengan sembilan
Lalu bagaimana jika waktu telah berhenti berjalan ?
Bagaimana jika jarum jam itu berhenti berputar ?
Apakah yang akan terjadi padaku ?
Entahlah.............
Ku tak tahu seberapa siap aku menanti jarum yang akan berhenti
Ku tak tahu bagaimana bekalku
Dan juga ... Ku tak tahu
Seandainya dalam bekalku terselip beribu makanan busuk
Kebusukan yang akan mencelakakanku nanti
Begitu juga jalan yang ada dibelakangku
Luruskah ? ? ? atau telah menyimpangkah ? ? ?
Lantas ku coba mengusir semua itu dari ruang imajiku
Kembali mataku berputar satu kuadran
Menatap jarum yang berputar konstan
Ya.........
Jarum itu masih berputar
Waktu masih berjalan
Waktu tak ‘kan lelah berjalan
Terus berjalan pada dimensinya
Lantas ku ikuti saja kemana ia akan menunutunku
Yang jelas, 180 derajat jarum itu berputar ke kanan
Hidupku harus lebih baik
Dari 180 derajat jarum itu di kirinya
                                                                                                               
This poem reminds me about my times when I was second grader in da SMA. It was the time when I made this poem in the class, for the subject "Bahasa Indonesia". I really miss that time.

                                                                                                             Created by : Tomi Tri Anggara
                                                                                                                                                                XII IIA 1 (Disakarida)

Jarum Jam



Jarum Jam
Cahaya sang surya
Yang memantul lewat jam gadang tua
Di tengah kota ini
Menarik mataku tuk melihatnya

Jarum-jarum yang berputar dan berdetak
Terus begitu sehingga aku terbuai bersamanya
Lantas muncul sesuatu di dunia imajiku
Pertanyaan –pertanyaan yang asing bagiku

Jarum-jarum yang berputar dan berdetak
Akankah mereka kan terus berputar ?
Akankah mereka kan terus berdetak ?
Ah tidak......
Jika mereka mulai berputar mereka kan berhenti
Jika dimulai dengan nol sembilan akan mengakhiri

Jarum-jarum yang berputar dan berdetak
Bagaimanakah jika mereka berhenti berputar ?
Bagaimana jika mereka berhenti berdetak ?
Entahlah.....
Ku tak tahu seberapa siap diriku
Ku tak tahu seberapa penuh bekalku
Seandainya mereka berhenti nanti
Dan juga ku tak tahu
Seandainya dalam bekalku terselip makanan busuk
Kebusukan yang kan mencelakakanku
Begitu juga dengan jalan yang ada di belakangku
Luruskah ? ? ? atau melencengkah ? ? ?
Ku usir saja semua pertanyaan itu

Jarum-jarum yang berputar dan berdetak
Kini masih berputar dan berdetak
Waktu masih berjalan
Dan tak akan pernah lelah tuk berjalan
Terus berjalan
Bersama dimensinya
Ku ikuti saja kemana ia membawaku
Yang jelas bagiku
Hidupku harus lebih baik
Bekalku harus lebih banyak
Setelah jarum-jarum itu berputar ke kanannya
Lebih baik dari pada jarum-jarum itu di kirinya
Dan aku siap kapanpun jarum-jarum itu berhenti
Berhenti berputar dan berdetak

This poem I made when I was in the second grade in SMA.  It reminds me about my school time. Ik mis je...
                                                                                               
Created by : Tommy Tri Anggara
                                                                                                                                                                         XII IIA 1 (Disakarida)