Showing posts with label linguistik. Show all posts
Showing posts with label linguistik. Show all posts

Saturday, February 20, 2016

Budaya: Etimologi

Kata “Budaya” dan Ilmu Pengetahuan
Dalam postingan kali ini saya akan menjelaskan tentang asal muasal kata “budaya” dan kenapa kata itu begitu penting bagi saya. Berikut ulasannya, check it out!
Dulu saya, dan mungkin hampir semua orang, percaya bahwa kata “budaya” adalah kata dalam bahasa Indonesia. Hal itu memang benar karena kata itu terdapat dalam KBBI, so pasti lah! Namun siapa sangka jika dilihat secara etimologinya atau asal katanya, kata “budaya” berasal dari bahasa Sanskerta yaitu Vidya yang berarti “wawasan” atau “ilmu pengetahuan”. Nah, sudah terjawab bukan kenapa saya menganggap kata ini penting? Ya, karena asal kata “budaya” itu berarti ilmu pengetahuan. Sciencia est potentia, ilmu pengetahuan itu adalah potensi!
Jika ditarik lebih jauh lagi, kata Vidya dalam bahasa Sanskerta juga memiliki akar kata yang sama dengan kata dalam bahasa Latin dan Yunani. Dalam bahasa Yunani terdapat kata idea yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan dalam bahasa Latin kita mengetahui kata video yang artinya “melihat”. Tapi jangan langsung berkesimpulan bahwa kata itu berbeda dikarenakan salah satu artinya “melihat”. Indera penglihatan adalah hal yang sangat penting di peradaban Indo-Eropa. Sehingga “melihat” mereka jadikan proses mendapatkan ilmu pengetahuan. Berkaitan juga, toh? Ini memang fakta etimologi, bukan sekedar alasan.
Butuh bukti lain? Nah, mari kita lihat kata “melihat” dalam bahasa Inggris yaitu to see. Kata to see ini jika diucapkan dengan “Oh, I see” bisa bermakna “saya paham”. “Paham” di sini berarti orang yang berbicara telah mengetahui atau memiliki pengetahuan atas sesuatu.
We’re back to Vidya and friends! Dalam bahasa Germanik juga terdapat kata yang sama. Kata wissen dalam bahasa Jerman berarti “mengetahui”. Saudara bahasa Jerman, yaitu bahasa Belanda, menggunakan kata weten untuk itu yang pastinya masih memiliki akar yang sama dengan kata-kata yang telah saya sebutkan tadi.
Selain dari kata Vidya, kata ‘Budaya’ juga dikatakan asalnya adalah budhaya  yang masih merupakan kata dalam bahasa Sanskerta. Artinya adalah “ilmu” atau “gagasan”. Meskipun sedikit berbeda namun pada dasarnya itu adalah kata yang sama. Secara fonologis juga masih terdapat kemiripan antara Vidya dengan Budhaya yang menyebabkan keduanya dikatakan seakar.

Akhirnya sekian dulu yang dapat saya share hari ini. Ditunggu ya postingan selanjutnya :) 

Thursday, February 18, 2016

Bahasa Esperanto

Bahasa Esperanto
Hallo allemaal (hello everyone!). Hari ini gue mau cerita tentang sebuah bahasa yang unik menurut gue., yaitu bahasa Esperanto. Kenapa sih gue tertarik dengan bahasa ini? Yuk diliat penjelasan gue mengenai bahasa ini dan temukan hal yang membuatnya berbeda dengan bahasa-bahasa lain di dunia.
Jadi, bahasa Esperanto adalah sebuah bahasa buatan (artificial language) yang dibuat oleh seorang dokter mata Yahudi berkebangsaan Polandia bernama Ludovic Lazar Zamenhof. Dengan waktu singkat bahasa ini mulai banyak digemari banyak orang dan memiliki kelompok pendukung di seluruh dunia.
A.      Sejarah
L.L Zamenhof lahir pada 1859 dan tumbuh di lingkungan kota kecil bernama Bialystok yang sangat heterogen; penduduk kota ini terdiri dari etnis Rusia, Polandia, Jerman, Yahudi dan Lithuania yang berbicara dengan bahasa masing-masing. Dari masa kecilnya Zamenhof telah mengimpikan dunia yang damai, salah satunya dengan sebuah common language (bahasa umum).
Setelah menginjak remaja Zamenhof mulai mengusahakan menyusun bahasa tersebut. Pada akhir masa sekolah menengahnya Zamenhof menunjukkan pada teman-temannya akan pentingnya sebuah bahasa yang ia sebut “lingwe uniwersala”, dan banyak yang tertarik dengannya. Pada 1878 draf pertama dari bahasanya berhasil diselesaikan.
Draf pertama tersebut tidak serta merta diterbitkan oleh Zamenhof secara langsung. Hal itu karena ia masih terlalu muda pada waktu untuk mempublikasikan sebuah proyek. Awalnya mereka mendiskusikan dengan orang0orang tua, namun malah mereka ditertawakan. Oleh karena itu Zamenhof menunda untuk menerbitkan konsepnya itu sambil menambah perbaikan-perbaikan pada bahasanya.
Ketika masa praktiknya sebagai dokter, barulah Zamenhof mencari penerbit untuk bahasa barunya tersebut. Untuk itu ia membuat manuskrip berjudul “lingvo internacia” dengan nama samaran “Doktoro Esperanto” yang artinya doktor penuh harapan. Meskipun awalnya terkendala oleh dana, namun pada 1887 akhirnya ia mendapat dukungan finansial dari ayah seorang rekannya dan buku pertamanya berjudul “Unua Libro” atau buku pertama. Buku ini kemudian berkembang di Eropa kemudian ke seluruh dunia. Sejak saat itu juga konvensi-konvensi para pengikut Esperanto di seluruh dunia secara rutin diadakan.
B.      Bahasa Sumber
Dari kecil Zamenhof tumbuh dalam lingkungan dengan banyak bahasa. Sehingga tidak mengherankan kalau ia telah menguasai banyak bahasa sejak masih muda, di antaranya bahasa Ibrani, Polandia, Jerman, Perancis, Rusia dan Yiddi. Ketika memasuki sekolah menengah ia mendapat pelajaran bahasa Latin dan Yunani (dua bahasa klasik “internasional). Setelah mempelajarinya ia berpikir kenapa salah satu dari dua bahasa tersebut tidak dijadikan bahasa internasional saja. Namun kemudian ia menyadari bahwa bahasa tersebut memiliki aturan tata bahasa yang sangat sulit bahkan untuk dirinya sendiri. Dia menginginkan bahwa bahasa umum internasional itu haruslah sesederhana mungkin sehingga semua orang dapat dengan mudah mempelajarinya. Masalahnya adalah bahasa yang sesederhana itu tidak ada di dunia.
Ketika mempelajari bahasa Inggris, Zamenhof mengamati tata bahasa yang lebih sederhana dari bahasa Latin atau Yunani. Sehingga ia mendapat ide untuk merancang bahasa buatan yang sederhana.
Awalnya ia menyusun perbendaharaan kata-katanya. Huruf demi huruf, suku kata demi suku kata, dan kata demi kata diusahakan untuk dibuatnya. Namun ia meyadari pasti akan sangat susah menghapalnya jika setiap kata yang dibuat sama sekali baru. Akhirnya sampailah ia pada ide untuk menjadikan bahasa Roman (bahasa-bahasa turunan dari bahasa Latin seperti Perancis, Spanyol, Italia, Portugis dll) dan Germanik (seperti Jerman, Belanda, Inggris, Swedia, Norwegia dll) sebagai basis bahasanya. Sehingga bahasa buatannya akan sangat mirip dengan bahasa-bahasa di Eropa. Kemudian ia juga memperoleh untuk membuat banyak prefiks (awalan) dan suffiks (akhiran), dengan membandingkan kata-kata dan memperhatikan hubungannya, untuk mempermudah kosakatanya, sehingga akar kata yang harus dipakai, dan dihapal, dapat dikurangi sebanyak mungkin.
C.      Leksem dan Gramatika
Seperti yang telah dijelaskan di atas, basis bahasa Esperanto adalah bahasa Roman dan Germanik. Dengan demikian kita bisa memperhatikan sebagian besar kosakata bahasa Esperanto berasal dari bahasa-bahasa dari kedua rumpun tersebut. Contohnya:
trinki (minum, Jerman: trinken), patro (ayah, Inggris: father), paroli (berbicara, Italua: parlare).
Dalam hal gramatika atau tata bahasa, bahasa Esperanto sangat sederhana dan sistematis. Kita tidak akan menemui  aturan-aturan ireguler (tak beraturan, pengecualian) seperti dalam semua bahasa di dunia. Bentuk kata dan tata kalimat diatur sedemikian rupa sehingga tidak ada penyimpangan aturan. Struktur kalimatnya seperti contoh di bawah ini:
Mi amas vin. (Mi = I, amas = love, vin = you --> I love you)
Mi ne amas vin. (Mi = I, ne = do(es) not (negation), amas = love, vin = you --> I don’t love you)
Ču vi amas min? (Ču = Do(es)? (interogation), vi = you, amas = love, min = me --> do you love me?)
Simpel, bukan? Bahkan pola kalimat itu sama dengan bahasa Indonesia atau Inggris.
Selain itu Zamenhof juga telah memudahkan menghapal kosa kata bahasa Esperanto dengan berbagai macam prefiks dan sufiks. Sehingga hanya dengan mengetahui satu kata, kita akan mengetahui banyak kata lain yang diturunkan dari kata itu dengan menambahkan prefiks atau sufiks. Berikut contohnya:
1. patro                = ayah = “patr-“, akhiran o = kata benda
2. patrino            = ibu --> patr + in + o (akar kata “patr” + sufiks pembentuk feminin “in” + sufiks kata benda “o”)
3. patrina            = keibuan --> patr + in + a (patrino = ibu (sudah dapat kan dari rumus di atas) + sufiks “a” sebagai penanda kata sifat (adjektif)
4. bopatrino       = ibu mertua --> bo + patr + in + o (prefiks “bo” (berarti hubungan karena pernikahan) + patrino = ibu (yang sudah dapat juga tadi)
5. bopatro           = ayah mertua (kembali ke kata ayah) --> bo + patr + o (prefiks “bo” (hubungan perkawinan) + patr = ayah + sufiks “o” = penunjuk kata benda)

Lebih mudah lagi, bukan? Coba bayangkan dengan hanya sedikit akar kata dan lebih sedikit lagi usaha menghapal prefiks dan sufiks kita sudah bisa menyusun sendiri banyak kata lainnya. Dan semua itu tanpa pengecualian atau irregularities.

Monday, February 15, 2016

Bahasa Afrikaans

Introduction to Afrikaans
Goede morgen allemaal (Good morning everyone!) Hari ini giliran bahasa Afrika (Afrikaans) yang jadi bahan pembicaraan gue. Kenapa gue membahas bahasa Afrikaans yang biasanya jarang dibahas? Karena bahasa Afrikaans adalah salah satu bahasa yang berasal dari bahasa Belanda. Nah, bagi yang penasaran bagaimana bahasa Afrikaans itu, yuk langsung dibaca aja!
Bahasa Afrikaans adalah salah satu bahasa resmi di negara Afrika Selatan dan merupakan bahasa terbesar ketiga di negara itu. Tidak hanya di Afrika Selatan, bahasa Afrikaans juga dituturkan sebagai bahasa minoritas di Namibia. Bahasa ini berasal dari bahasa Belanda yang dibawakan oleh koloni-koloni Belanda beberapa abad yang lalu ke Afrika Selatan. Bahasa Belanda yang mereka bawa berevolusi dengan pengaruh bahasa-bahasa lain menjadi bahasa Afrikaans yang sekarang.
Bahasa Afrikaans disebut sebagai saudara bahasa Belanda karena bahasa intinya adalah bahasa Belanda. Secara gramatikal bahasa ini hampir benar-benar sama dengan bahasa Belanda. Kosakatanya pun hampir semuanya berasal dari kosakata bahasa Belanda. Contohnya “dank je” (terima kasih dalam bahasa Belanda) dan “dankie” (terima kasih dalam bahasa Afrikaans). Oleh karena itu, bahasa Afrikaans juga termasuk rumpun bahasa Germanik barat. Namun bahasa-bahasa lain juga memiliki kontribusi dalam sejarah evolusi bahasa ini.
Bahasa-bahasa lain yang memiliki kontribusi dalam bahasa Afrikaans selain bahasa Belanda adalah bahasa lokal seperti bahasa suku Khoisan dan suku Nguni. Pengungsi seperti Huguenot Perancis juga berpengaruh dalam perkembangan bahasa ini. Selain itu, bahasa ini juga mendapat pengaruh dari bahasa Jerman dan Inggris karena kedatangan misionaris dari Jerman dan Skotlandia. Terakhir, budak-budak dari Indonesia dan Malaysia yang diperdagangkan oleh Belanda waktu itu juga memberikan unsur-unsur bahasa Melayu ke dalam bahasa Afrikaans.
Afrikaans adalah sebuah bahasa yang multikultural. Hal itu karena bahasa ini dipergunakan oleh berbagai macam suku bangsa seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Bahasa ini juga sebenarnya tidak rasis, meskipun banyak yang mengasosiasikannya dengan apartheid (diskriminasi ras di Afrika Selatan). Orang kulit hitam maupun kulit putih menggunakannya secara bersama-sama tanpa ada klaim siapa yang memiliki bahasa Afrikaans.
Bahasa Afrikaans sangat mudah untuk dipelajari. Apalagi jika kalian sudah menguasai bahasa Belanda, yang merupakan asal bahasa ini, atau setidaknya bahasa Jerman. Karena struktur kalimat dan kosakata bahasa Afrikaans sangat mirip dengan bahasa Belanda, bahkan bisa dikatakan sama untuk kadar tertentu. Bahasa Afrikaans bahkan lebih mudah dari bahasa Belanda (biasanya bahasa Kreol memang lebih sederhana). Contohnya, jika bahasa Belanda mempunyai 4 macam konjugasi untuk kata kerja “to be” (ben, bent, is dan zijn), maka Afrikaans hanya mengenal satu “is”.
Pelafalan bahasa Afrikaans sangat mudah dibandingkan bahasa Eropa. Sistem penulisannya lebih fonetis. Ini berarti kita membaca sesuai apa yang tertulis, dan sebaliknya, kita menulis seperti apa yang kita dengar. Dalam artian satu huruf melambangkan satu bunyi saja. Jadi, membacanya seperti membaca bahasa Indonesia saja dengan beberapa aturan yang sedikit berbeda.
Bahasa Afrikaans adalah bahasa yang deskriptif. Sehingga kita akan mudah menebak makna dari sebuah kata dengan melihat arti dari kata pembentuknya. Contohnya “tandarts” (dari tand= gigi, dan arts = dokter), ”aartappel” (dari aart = bumi, dan appel = apel), dan “goedkoop” (dari goed = bagus, dan koop = beli). Dengan sangat mudah kita akan menebak arti ketiganya yaitu dokter gigi, kentang dan murah.


Referensi:
Brown, Keith, Ogilvie, Sarah. Concise Encyclopedia of Languages of the World. 2009. Oxford: Elsevier Ltd.

McDermott, Lydia. Complete Afrikaans. 2010. London: McGraw-Hill

Friday, February 12, 2016

Bahasa Belanda

Introduction to Dutch
Hallo allemaal (hai semuanya !) Hari ini gue mau cerita sedikit nih tentang bahasa Belanda. Bahasa Belanda itu apa ya? Nah, bagi yang penasaran yuk langsung dibaca aja :)
Jadi, bahasa Belanda (Inggris: Dutch, Belanda: Nederlands, Perancis: Neerlandais/Holandais, Jerman: Niederlandisch dll) adalah salah satu bahasa di Eropa yang dituturkan oleh sekitar 20 jutaan orang di dunia terutama di negara asalnya di Belanda dan Vlaanderen (Belgia bagian utara). Jadi di Eropa ada dua negara yang menggunakan bahasa Belanda, yaitu Belanda (so pasti !) dan Belgia. Di Belgia, bahasa Belanda dituturkan di wilayah utara yang disebut Vlaanderen. Sedangkan di wilayah selatan negara tersebut digunakan bahasa Perancis.
Selain di Eropa, bahasa Belanda juga dipakai di beberapa negara bekas jajahan Belanda (maklum, koloni banyak jajahannya). Salah satunya adalah Suriname. Di Suriname (di sini banyak orang Jawa lho) bahasa Belanda adalah bahasa resmi. Selain itu, di beberapa negara kecil seperti Aruba, Curacao, St. Martin dan Antillen (Netherlands Antilles, masih termasuk Kerajaan Belanda) dan beberapa negara pulau kecil lainnya di Amerika tengah juga masih memakai bahasa Belanda.
Di beberapa negara bekas jajahan Inggris juga banyak terapat pengguna bahasa Belanda. Di negara-negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia termasuk juga Perancis masih terdapat beberapa ribu penutur bahasa Belanda. Amerika Serikat dulu juga merupakan daerah kekuasaan Belanda dan sampai sekarang masih terdapat beberapa peninggalan nama-nama Belanda disana.
Salah satu negara besar yang dikuasai Belanda adalah . . . . ya, Indonesia. Negara kita ini adalah salah satu aset paling besar bagi Belanda pada masa kolonial. Di Indonesia, oleh karena itu, masih terdapat beberapa penutur bahasa Belanda. Mereka biasanya adalah generasi tua yang hidup pada zaman pergerakan atau kemerdekaan. Penutur bahasa Belanda ini banyak terdapat di Maluku dan Sulawesi. Di Indonesia juga terdapat satu-satunya studi Belanda di Indonesia (dan hanya dua di Asia), yaitu di program studi Sastra Belanda UI, yeeay, bisa numpang promosi jurusan haha.
Afrika Selatan (negara paling selatan di Afrika) juga dulunya daerah kekuasaan Belanda (terutama tempat penjualan budak, iih serem). Oleh karena itu bahasa Belanda juga terdapat di sini. Namun sekarang bahasa Belanda di sini mengalami perubahan karena asimilasi dengan bahasa lokal dan bahasa Eropa lainnya seperti Inggris dan Jerman (yang dibawakan oleh investor dan misionaris). Bahasa Melayu dari Indonesia dan Malaysia yang dibawa oleh para budak juga berpengaruh terhadap bahasa Afrika ini. Akhirnya bahasa Afrika (Afrikaans) menjadi sedikit berbeda dari bahasa Belanda. Bahasa yang merupakan “adik bahasa Belanda” ini merupakan salah satu bahasa terbesar di Afrika Selatan dan salah satu dari 11 bahasa resmi di negara tersebut. Jika kalian mempalajari bahasa Belanda dan ingin mempelajari bahasa Afrikaans akan sangat mudah karena sangat sangat mirip.
Dalam peta linguistik, bahasa Belanda, bersama dengan bahasa Inggris, Jerman, dan Frisian, termasuk rumpun bahasa Germanic Barat (West-Germanic). Dalam tingkatan lebih tinggi rumpun Germanik Barat dimasukkan ke dalam Proto German. Bagian lain dari Proto German adalah Germanik Timur (East-Germanic) dan Germanik Utara (North-Germanic, yaitu bahasa-bahasa di Denmark, Norwegia, dan Swedia). Bahasa-bahasa dalam Proto German ini memiliki kemiripan satu sama lain, baik dalam hal leksikon (kosakata) maupun gramatika (tata bahasa). Yang paling mirip dengan bahasa Belanda adalah bahasa Jerman sehingga mereka disebut sebagai “dua bahasa bersaudara”.
Dibandingkan dengan bahasa rumpun Germanik lainnya, bahasa Belanda memiliki aturan gramatikal yang lumayan mudah (tapi Inggris lebih sederhana). Misalnya, bahasa Jerman mengenal adanya 4 kasus (perubahan kata benda sesuai fungsinya dalam kalimat yang sangat rumit jika dipelajari), sedangkan Belanda tidak mengenal kasus. Perbedaan kedua adalah dalam hal gender. Dalam bahasa Germanik, kecuali Inggris, setiap kata benda memiliki gender/jenis kelamin. Di Jerman ada  tiga gender: maskulin, feminin dan netral (semua benda ada yang laki-laki, perempuan dan tidak bergender). Sedangkan dalam bahasa Belanda hanya terdapat dua gender: umum (campuran maskulin dan feminin) dan netral (tidak bergender). Dalam hal konjugasi (perubahan kata kerja sesuai fungsinya), bahasa Belanda juga lebih sederhana dibandingkan bahasa Jerman, tetapi tetap saja bahasa Inggris lebih sederhana lagi. Selain itu masih terdapat beberapa perbedaan lagi yang menunjukkan bahasa Belanda lebih sederhana daripada bahasa Jerman.
Seiring perkembangannya bahasa Belanda mendapat pengaruh dari berbagai bahasa. Bahasa-bahasa tersebut adalah bahasa Perancis, Inggris, Jerman dan Melayu-Indonesia. Pengaruh bahasa-bahasa tersebut dapat dilihat dalam hal kosakata. Pengaruh Perancis sangat besar dalam bahasa Belanda karena Belanda pernah dikuasai oleh Napoleon Bonaparte (Perancis) dan pada waktu itu bahasa Perancis dianggap keren. Sehingga kata-kata Perancis masuk ke dalam bahasa Belanda seperti chauffeur (bahasa Indonesia juga mengambil kata ini menjadi sopir), bureau (diambil juga oleh Indonesia menjadi biro), avontuur (adventure), royaal (generous, Indonesia = royal) dan masih banyak lagi. Di sisi lain pada abad-abad terakhir bahasa Inggris juga berkontribusi dalam bahasa Belanda dengan kata-kata seperti baby, callcenter, ups and downs, camping dan masih banyak lagi. Kosakata dari Bahasa Jerman seperti gletscher (glacier), heimwee (home-sickness), uberhaupt (at all) dll. Bahasa Melayu-Indonesia dibawa ke Belanda oleh para budak dan orang Hindia Belanda atau Indo-Belanda yang pindah (atau balik) ke sana. Kata-kata seperti kroepoek, ketjap, soessa, nasi, sawah, bahkan kassian adalah sebagian dari kosakata bahasa Indonesia yang diterima dalam bahasa Belanda.
Hal sebaliknya juga terjadi. Bahasa Belanda juga memiliki kontribusi dalam kosakata bahasa lain, salah satunya bahasa Indonesia. Ratusan tahun menjalin hubungan dengan Hindia Timur (Indonesia) membuat banyaknya kosakata Belanda menyebar dalam bahasa Indonesia, juga dalam bahasa daerah di Indonesia. Contohnya yaitu kulkas (dari koelkast), taplak meja (dari tafellaken), peron (dari perron), atret (kode memundurkan mobil, dari achteruit), peluit (dari fluit) dan masih banyak lagi.


Referensi:
Donaldson, Bruce. Dutch: A Linguistic History of Holland and Belgium. 1983. Leiden: Martinus Nijhoff

Brown, Keith, Ogilvie, Sarah. Concise Encyclopedia of Languages of the World. 2009. Oxford: Elsevier Ltd.

Wednesday, February 10, 2016

Rumpun Bahasa Indo-Eropa

Rumpun Bahasa Indo-Eropa
Kata Indo-Eropa merujuk kepada bahasa dan kebudayaan orang-orang yang tersebar di hampir seluruh Eropa (kecuali yang berbahasa Finno-Ugria, yaitu Finlandia, Hungaria, Estonia dll), India, Iran dan sekitar laut Kaspia. Dulunya bangsa Indo-Eropa ini tinggal di sekitar laut Kaspia dan laut Hitam. Kemudian bangsa ini menyebar ke berbagai wilayah di tenggara (India dan Iran), barat (Eropa bagian barat), dan utara (Eropa Timur dan Rusia). Persebaran ini menyebabkan timbulnya variasi dari bahasa dan budaya mereka karena berbaur dengan budaya tempat yang mereka datangi, meskipun budaya, bahasa dan agama bangsa Indo-Eropa memliki peran yang kuat.
Dalam ilmu linguistik, istilah Indo-Eropa, yang diperkenalkan oleh Thomas Young pada 1813, merupakan salah satu rumpun bahasa di dunia yang terdiri dari lebih dari 140 bahasa atau dialek (termasuk yang sudah punah) di Eropa, India, Iran dan sekitarnya. Perkembangan penelitian keluarga bahasa Indo-Eropa ini sudah dilakukan sejak abad ke-17 atau 18 ketika awalnya Sir William Jones mengeluarkan postulat tentang persaudaraan bahasa Yunani, Latin dan Sanskerta. Diagram hubungan ketiga bahasa itu kemudian terus berkembang dengan ditambahkannya bahasa atau grup bahasa baru dari hasil Cross-linguistic Comparison (perbandingan antar-linguistik).
Setelah perekonstruksian yang lama dari hasil komparasi bahasa-bahasa Indo-Eropa, para ahli linguistik berhasil membuat “pohon keluarga” yang menggambarkan hubungan antar bahasa di dalam keluarga ini. Berikut saya sebutkan grup dan subgrup serta bahasa-bahasa yang ada dalam rumpun Indo-Eropa ini.
A.      Celtik
1.       Subgrup Celtik Kontinental : terdiri dari bahasa Celtiber* dan Gaul*
2.       Subgrup Celtik Insular : terdiri dari bahasa Irlandia, Galia Irlandia, Galia Skotlandia
3.       Subgrup Bretonik : terdiri dari bahasa Welsh dan Breton
B.      Germanik
1.       Subgrup Germanik Utara : terdiri dari bahasa Swedia, Norwegia, Islandia, Denmark dll
2.       Subgrup Germanik Barat : terdiri dari bahasa Jerman, Belanda, Inggris, Frisia, Saxon, Yiddis dll
3.       Subgrup Germanik Timur : terdiri dari bahasa Gothik (telah punah, tapi bukti masih ada)
C.      Italik
1.       Subgrup Sabellia : terdiri dari bahasa Oscan*, Umbrian* dan Pirenia Selatan*
2.       Subgrup Latin-Faliscan : terdiri dari Faliscan* dan kelompok bahasa-bahasa roman (Perancis, Italia, Spanyol, Portugis, Catalan, Romania dll.
D.      Balto-Slavik
1.       Subgrup Baltik : terdiri dari bahasa Lithuania, Latvia, Prusia Kuno*
2.       Subgrup Slavik : terdiri dari Slavik Timur (bahasa Rusia, Belarusia, Ukraina), Slavik Selatan (bahasa Bulgaria, Macedonia, Slovenia, kompleks bahasa Serbo-Kroasia), dan Slavik Barat (bahasa Ceko, Polandia, Serbia, dan Slowakia)
E.       Indo-Iran
1.       Subgrup Indo-Arya : terdiri dari bahasa Hindi, Hindu-Urdu, Bengali, Punjabi, Gujarati, Marathi dll
2.       Subgrup Iran : terdiri dari bahasa Iran Kuno (Avestan*, Persia Kuno*), Iran Pertengahan (Parthi*, Persia Pertengahan*, Khotan*, Sogdian* dll), dan Iran Modern (Farsi/Persia, Kurdi, Pashto dll)
3.       Bahasa Nuristan
F.       Anatoli : terdiri dari bahasa Hitit*, Palaik*, Luvia*, Lydia*, Pisudia*, Sidetik* dll
G.     Bahasa Yunani (Sebagian menyebutnya bahasa Helenik)
H.      Bahasa Albania
I.        Bahasa Armenia
J.        Bahasa Tocharia

K.      Bahasa-bahasa yang belum dikelompokkan seperti Phrygia, Thracia, Venetik, Messapik dll