Showing posts with label agama. Show all posts
Showing posts with label agama. Show all posts

Sunday, December 10, 2017

Interpretasi Karya Seni Teater “Amor Feti” by Teater Agora

Interpretasi Karya Seni Teater “Amor Feti” by Teater Agora
"Kehidupan, Ketidakpastian, Keselamatan, Kematian"
Mendengar judulnya saya langsung tertarik melihat teater ini, pertama karena berbahasa Latin, dan kedua karena artinya “cinta pada takdir”. Berhubung teater ini dibawakan oleh Program Studi Filsafat UI, saya ingin melihat bagaimana pandangan mereka terhadap konsep “takdir”.
Di awal terlihat seseorang yang telanjang diiringi oleh beberapa orang yang bersenandung dengan melodi-melodi suara tanpa kata-kata. Dengan seseorang yang telanjang sebagai objek utama, saya langsung bisa menebak bahwa para “filsuf” ini akan mengangkat sesuatu mengenai hakikat manusia—makanya saya akan menggunakan kata “manusia” dalam tulisan kali ini. Akankah mereka akan melanjutkan misi J.J. Rousseau untuk “kembali ke alam”?
Setelah sekian lama diketahuilah bahwa tokoh telanjang itu adalah seorang bayi yang masih polos. Ia mulai menggerakkan anggota tubuhnya, berusaha bangkit namun tak bisa. Manusia-manusia bersenandung datang kembali mengelilingi sang anak dan mengucapkan bunyi-bunyi vokal yang kemudian ditiru oleh anak tersebut. Setelah pergi lingkaran manusia tersebut datang kembali dengan kata: hidup dan mati. Seiring sang anak belajar merangkak, berdiri, lalu berjalan, ia diajarkan kata-kata hingga kalimat “kehidupan adalah ketidakpastian yang butuh aturan agar selamat saat datang kematian”. Anak itu mempelajari segala hal yang diajarkan mereka. Lalu ia dipakaikan pakaian yang sama dengan mereka, setelah ia memiliki kemampuan yang sama dengan mereka. Genaplah ia sekarang menjadi manusia seutuhnya. Proses ini dapat kita lihat sebagai tahap perkembangan anak manusia menjadi anggota masyarakat.
Selama ini sang anak mengikuti lingkaran orang-orang yang mendiktekan padanya gerakan-gerakan dan kalimat-kalimat. Suatu ketika, sang anak bertanya-tanya apa makna dari kalimat yang telah ia pelajari, “kehidupan adalah ketidakpastian yang butuh aturan agar selamat saat datang kematian”. Ia tidak mendapat jawaban. Orang-orang di sekelilingnya bungkam sambil tetap mendiktekan kalimat tersebut, berjalan lurus mengikuti “aturan”. Ini adalah perlambang masyarakat yang konservatif dan selalu mengikuti aturan-aturan yang kaku dan membatasi yang bahkan mereka sendiri tidak tau kebenarannya.
Suatu ketika sang anak mengalami peristiwa yang menjadi pertanyaan besar baginya. Ia dapat berjalan ke belakang, ke samping, cepat, lambat, dan bergerak sesukanya. Tentunya berbeda dengan yang diajarkan orang-orang di sekelilingnya. Hal ini adalah sebuah tramendum yang membuatnya bertanya-tanya dan menyintesa pendapatnya sendiri. Lalu sifat skeptisnya membuat ia mendobrak aturan tersebut. Ia melawan pengotakkan manusia yang dilakukan lingkaran manusia tersebut dengan pemikiran seorang skeptis yang mencari kebenaran, yaitu kebebasan. Betapa tokoh ini seorang filsuf yang ideal.
Semakin besar resistensi yang dilakukan, semakin kuat pula opresi yang dilakukan orang-orang di sekitarnya dengan aturan-aturan yang dipaksakan. Lingkaran manusia di sekeliling sang anak semakin lama semakin sempit menyebabkan ruang geraknya semakin sempit pula. Sang anak tidak dapat bebas dari lingkungan tersebut hingga pada akhirnya ia benar-benar stuck. Pun ketika ia menyadarkan manusia-manusia di sekitarnya akan potensi mereka—bergerak sesuai kehendak mereka (free will)—ia justru ditampar tanpa jawaban sedikitpun. Lalu ia berusaha memanjat dinding manusia tersebut agar bisa terlepas, namun tak bisa. Kakinya diinjak dan terlihat senyum dari manusia di sekitarnya yang membawa aturan-aturan: sebuah senyum kemenangan orang-orang konservatif atas kekalahan seorang skeptis.
Sang pemberontak akhirnya mengikuti orang-orang di sekitarnya. Ia tak lagi menanyakan kenapa ia harus mengikuti aturan tapi ia terpaksa mengikuti mereka. Ia ikut bergerak dalam pola-pola terbatas membawa kalimat-kalimat yang dulu ia tentang. Keterpaksaan terlihat dari tokoh utama yang menyiratkan bahwa apa yang ia ikuti menentang pemikirannya sendiri. Aturan di masyarakat telah berhasil dipaksakan pada individu tanpa penjelasan esensi dari aturan tersebut. Aturan tersebut adalah aturan yang dibuat karena kehidupan tidak pernah pasti yang kemudian membutuhkan aturan agar selamat saat datang kematian.
Tidak perlu diragukan lagi, setidaknya bagi diri saya sendiri, bahwa yang dibicarakan dalam hal ini adalah agama yang selalu berbicara tentang keselamatan setelah kematian. Tak dapat dipungkiri juga bahwa aturan-aturan dalam agama tersebut dibuat karena ketakutan akan kematian yang tidak pernah pasti sehingga manusia menciptakan ‘keselamatan” sendiri yang (sayangnya) diterima oleh dan dipaksakan pada masyarakat umum. Setiap yang mempertanyakan atau bahkan melawan akan dibungkam dan akhirnya akan tetap mengikutinya. Negosiasi-negosiasi yang diupayakan-individu-individu skeptis terhadap masyarakat sama sekali tidak berhasil. Akhirnya keselamatan yang dijanjikan saat datang kematian bagi individu-individu yang mengikuti aturan pun tidak dapat dibuktikan kebenarannya.

Akhir kata saya ingin menyintesa kembali kalimat teater ini “kehidupan adalah ketidakpastian yang butuh aturan agar selamat saat datang kematian” menjadi “kehidupan adalah ketidakpastian yang dibuatkan aturan untuk keselamatan yang tak pasti saat datang kematian”.

Saturday, December 31, 2016

Inti Ajaran Agama Abrahamik

Inti Ajaran Agama Abrahamik
Hi guys, it's been a long time I haven't been writing anymore. Miss you all, guys. Maaf ya satu semester kita gk bisa jumpa lagi gara-gara laptop gue rusak :( But, it's okay. Hari ini gue bakal share sesuatu lagi. It's about semitic or abrahamic religions again. Kalau kemaren gue udah share sedikit apa itu agama semitik atau abrahamik, hari ini gue akan share sedikit mengenai inti ajaran agama-agama tersebut yang pastinya memiliki persamaan besar dibandingkan agama lainnya. So, check this out!
Agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, Islam) sama-sama lahir dari bangsa Semit. Ketiganya memiliki banyak persamaan bahkan pada hal yang sangat mendasar.
1.      
Kisah Abraham
Dari istilahnya, sudah jelas bahwa dalam ketiga agama ini Abraham/Avraham/Ibrahim dianggap sebagai nabi yang sangat penting. Ketiganya berasal dari keturunan-keturunan Ibrahim, melalui Ismail (putra Hajar) dan Isaac (Ishak, putra Sarah). Namun, ada sedikit perbedaan dalam Bibel dan Qur’an. Ketiga agama mengenal cerita tentang pengorbanan anaknya oleh Ibrahim kepada Tuhan. Namun, dalam ajaran Yahudi dan Kristen, yang dikorbankan adalah Isaac, sedangkan menurut Qur’an yang dikorbankan adalah Ismail. Akan tetapi, keduanya tidak berdebat lagi mengenai ending ceritanya, dimana yang dikorbankan ditukar oleh Tuhan dengan seekor domba yang besar. Kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak membutuhkan korban dalam bentuk manusia, tetapi kepatuhan ketaatan terhadapNya.
2.       
Monoteisme
Sebagai agama Semitik, ciri utama yang dimiliki oleh Yahudi, Kristen dan Islam adalah ajaran monoteisme. Ketiganya percaya akan satu Tuhan. Meskipun sebagian Yahudi dan Islam menyebut Kristen politeisme karena mengenal tiga Tuhan, tetapi sebenarnya dalam Kristen pun Tuhan hanya satu, tetapi perwujudannya ada tiga. Hal ini kita sebut dengan ajaran Trinitas.
3.       
Revelation
Dalam agama monoteistik, dikatakan bahwa Tuhan (khaliq, -pencipta) berkomunikasi dengan manusia (makhluk) melalui perantara. Ajarannya disampaikan melalui orang-orang tertentu yang disebut prophet (nabi/rasul/rabi). Penyampaian firman-firman Tuhan ini disebut revelation (pewahyuan) yang berasal dari kata reveal yang berarti “membuat tampak/muncul”.
Pewahyuan dalam agama Yahudi, Kristen dan Islam dipercaya melalui malaikat. Ketiganya menyebut malaikat ini dengan malaikat Gabriel/Jibril yang juga disebut sebagai Roh/Ruhul Kuddus. Orang pertama yang mendapat pewahyuan adalah Adam, bersama dengan Eva (Hawa). Seterusnya kepada nabi-nabi seperti Noah, Elijah, Abraham, Jacob, Moses dll. Namun, perbedaan ketiga agama adalah tentang Yesus dengan Muhammad. Yang percaya keduanya adalah Islam.
4.       
Kitab Suci
Pewahyuan kepada nabi-nabi dipakai untuk diajarkan kepada orang lain. Pada nabi-nabi utama, wahyu Tuhan dicetak sebagai ajaran yang bertahan bertahun-tahun bahkan berabad-abad. Yahudi mengenal Tanakh, yang merupakan singkatan dari Torah, Nevi’im dan Ketuvim. Kristen percaya kepada bibel Yahudi (Old Testament), dan kepada bibel Perjanjian Baru (New Testament). Terakhir, Islam memiliki Qur’an yang dipercaya merupakan penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya. Semuanya memiliki beberapa persamaan dalam hal isi, misalnya tentang proses penciptaan. Cerita nabi-nabi dalam ketiga kitab juga hampir sama persis. Selain itu, semua kitab agama Abrahamic berisi tentang ajaran untuk patuh kepada Tuhan dan berbuat kebaikan.
5.      
Messiah (Juru Selamat)
Ketiga agama Abrahamik mengenal ajaran tentang Messiah. Messiah adalah juru selamat yang diutus oleh Tuhan untuk menyelamatkan umat manusia. Orang Kristen percaya bahwa Messiah itu adalah Yesus. Yesus datang ke dunia untuk menebus dosa manusia dengan penderitaan dan kematiannya. Orang Islam juga percaya bahwa Yesus adalah sang Messiah yang dijanjikan Tuhan. Kristen dan Islam percaya bahwa Yesus akan kembali suatu saat nanti ketika kiamat hampir dekat. Namun, berbeda dengan Kristen, Islam tidak percaya bahwa Yesus meninggal di tangan manusia (disalib), tetapi diangkat ke langit oleh Tuhan. Sedangkan orang Kristen percaya bahwa Yesus diangkat ke langit setelah kematiannya. Berbeda dengan Islam dan Kristen, Yahudi tidak percaya bahwa Messiah itu adalah Yesus. Messiah akan datang suatu saat nanti. Sebagian Yahudi beranggapan bahwa Yesus adalah seorang pemimpin spiritual.
6.       
Hari Akhir
Agama Abrahamik percaya akan adanya hari pembalasan setelah semua orang mati. Tuhan berjanji akan menghakimi semua orang dan memberi balasan terhadap semua perbuatannya di dunia. Tuhan akan memberi keselamatan kepada orang-orang yang memiliki keimanan dan berbuat kebaikan di dunia. Kebaikan yang diajarkan seperti menunjukkan kasih sayang dan saling membantu terhadap orang lain. Namun, sebagian orang Kristen berbeda pandangan mengenai keimanan dan berbuat kebaikan. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa keselamatan diberikan Tuhan tidak berdasarkan perbuatan baik manusia, tetapi ditentukan oleh rahmat (kasih sayang) Tuhan sendiri. Tetapi yang paling penting dari semua itu adalah keimanan kepada Tuhan. Bagi siapa yang berbuat sesuai perintah Tuhan maka dijanjikan untuknya kehidupan abadi. Sedangkan neraka disediakan untuk orang-orang yang berbuat kejahatan. Yang membedakan agama Abrahamik dengan agama lainnya adalah tidak adanya reinkarnasi.
7.      
Ibadah(t) / ritus

Ketiga agama Abrahamik mempunyai cara beribadahnya masing-masing. Tetapi ketiganya memiliki persamaan yaitu: memiliki hari khusus untuk ibadah bersama (berjamaah), Yahudi pada hari Sabtu, Kristen pada hari Minggu, dan Islam pada hari Jumat; Koneksi personal dengan Tuhan diperbolehkan; Ibadah dengan suara lantang, berbeda dengan meditasi pada agama timur, seperti nyanyian-nyanyian di gereja, pembacaan Al-Qur’an atau pengajian, serta pembacaan Tanakh oleh orang Yahudi; Mengenal ibadah puasa pada hari tertentu dengan durasi dan rentang waktu tertentu; dan biasanya menggunakan air sebagai penyuci diri sebelum beribadat.

Friday, May 6, 2016

Agama-agama Abrahamik / Semitis / Samawi

Agama Abrahamik
Hai semuanya, kali ini saya akan membahas tentang kepercayaan Abrahamik. Apakah kepercayaan Abrahamik itu? Yuk, dibaca penjelasannya :)
Kepercayaan Abrahamik (Abrahamic Faiths) merujuk kepada tiga kepercayaan besar dunia, yaitu Yahudi, Kristen dan Islam. Ketiga agama ini sama-sama lahir dari bangsa Semitik (sekarang Arab, Isael, Ethiopia dll, Semitik = dari nama bahasanya “bahasa Semit”). Daerah tempat Ibrahim dan keturunannya ini disebut sebagai Tanah Suci (Holy Land), yaitu antara Mesopotamia dan Mesir. Lalu, kenapa ketiganya disebut agama Abrahamik?
Sebagian referensi menyebut ketiga agama ini dengan “agama Semitik” (semitic religions). Istilah tersebut merujuk kepada bangsa tempat ketiganya lahir, bangsa Semit. Meskipun agama Kristen sekarang memiliki basis di Eropa (tepatnya Vatikan) dan mendapat banyak pengaruh budaya Eropa (Yunani dan Romawi), namun ia termasuk agama Semitik karena basis ajarannya tetap berasal dari bangsa Semit (ingat bahwa Yesus adalah seorang Yahudi!). Oleh karena itu, tempat suci bagi ketiga agama ini juga terdapat di daerah Tanah Suci, tepatnya di Kota Jerussalem. Setiap tahun kota ini selalu dikunjungi oleh pemeluk ketiga agama tersebut. Sayangnya, kota suci ini telah bertahun-tahun menjadi daerah konflik antara Israel dengan Palestina. Apakah ini konflik politik atau agama, kita tidak tahu.
Yahudi, Kristen dan Islam juga disebut oleh sebagian orang sebagai agama Samawi. Samawi dalam bahasa Arab berarti langit. Jadi, agama Samawi berarti agama yang berasal dari langit dari Tuhan). Islam juga mengenal istilah “ahli kitab” yang merujuk kepada pemeluk agama Yahudi, Nasrani (Kristen), dan Islam. Dan kitab yang dimaksudkan di sini adalah Tanakh (taurat), Bibel (Perjanjian Baru) dan Al-Qur’an. Umat muslim percaya kepada ketiga kitab tersebut, namun Al-Qur’an dipercaya sebagai yang paling lengkap karena “terbit” paling akhir.
Ketiga agama ini mengenal nama-nama seperti Adam, Noah (Nuh), dan Moses (Musa) dalam ajarannya. Lalu, kenapa agama ini tidak disebut sebagai agama Adamik, Noahian atau Mosaik? Adam dan Noah disebut sebagai bapak umat manusia. Dari mereka semua manusia saat ini berasal. Sehingga istilah Adamic dan Noachian terlalu luas (dan membuat ragu) untuk merujuk Yahudi, Kristen dan Islam. Moses (Musa) diakui sebagai nabi dalam ketiga agama. Namun istilah Mosaic akan lebih merujuk kepada Yahudi, dan seterusnya kepada Kristen yang berasal dari Yahudi. Karena Moses merupakan keturunan nabi yang terpisah dengan garis bangsa Arab (Islam), yaitu garis Ishmael (Ismail). Moses mengikuti garis Isaac (Ishak), dari sinilah Yahudi dan Kristen berasal. Jadi, istilah Adamik dan Noahian akan terlalu luas, sedangkan istilah Mosaik akan terlalu sempit karena tidak menginklusifkan Islam.
Dalam ketiga agama besar ini, Abraham (Ibrani: Avraham, Arab: Ibrahim) merupakan nabi yang sangat penting. Dalam Islam, Ibrahim adalah muslim (monoteis) pertama ketika monoteisme sudah hilang, Yahudi menganggap Avraham sebagai progenitor bangsa Israel, melalui Isaac dan Jacob. Kristen memandang Abraham sebagai contoh keimanan dan asal mula Kristus, sebagaimana Islam menyebutnya sebagai “bapak keimanan” (father of faith). Bagi ketiganya, Ibrahim dianggap sebagai orang yang paling penting di antara nabi-nabi sebelumnya dan menjadi orang yang umum di antara ketiga agama ini. Sehingga ketiganya disebut Agama Abrahamik.
Dilihat dari segi keturunannya, Abraham merupakan nabi pertama tempat bermuaranya ketiga agama besar ini. Ibrahim memiliki 2 anak (sebagian menyebutkan 8), yaitu Ishmael (Ismail) dan Jacob (Ya’kub). Keduanya ditempatkan terpisah, Ismail di Mekkah dan Jacob di Jerussalem. Dari garis Jacob, terdapat banyak nabi-nabi yang salah satunya adalah Moses dan Yesus. Dari Moses terbentuk agama Yahudi, dan Yesus adalah asal dari agama Kristen meskipun Yesus sendiri adalah seorang Yahudi. Sedangkan, Islam tidak berasal dari garis tersebut. Nabi Muhammad lahir dari garis keturunan Ismail setelah melewati banyak generasi. Jadi, Ibrahim adalah nabi yang keturunannya mencakup ketiga agama.
Oke, sekian dulu yang dapat saya share hari ini. Ditunggu postingan selanjutnya ya :)

Sunday, March 20, 2016

Konsep Kebenaran Teologi pada zaman Pramodern, Modern dan Posmodern

Hai semuanya. Kali ini saya ingin menuliskan hasil laporan tugas Filsafat saya di kelas dalam blog ini. Tulisannya dan keilmiahannya mungkin masih kacau, karena ini belum saya perbaiki. Namun saya harap tulisan ini dapat mewakili kesimpulan pembelajaran Filsafat saya di kelas. Temanya adalah konsep kebenaran dan teologi pada tiga zaman yang berbeda. Dan di sini saya hanya menuliskan kesimpulan yang saya dapat saja. Oh iya, tulisan saya ini juga mengacu pada artikel dosen saya. bapak Naupal.

Konsep Kebenaran Teologi zaman Pramodern, Modern dan Posmodern
Konsep tentang Tuhan merupakan hal yang sangat dekat dengan kehidupan manusia dan telah berkembang seiring perkembangan peradaban manusia. Eksistensi Tuhan begitu penting sehingga ada ilmu yang khusus mempelajari tentang Tuhan dan kaitannya dengan realitas yaitu Teologi. Dalam Teologi ada yang mempercayai bahwa mengenal Tuhan bisa dengan nalar akal dan pengamatan yang disebut dengan teologi natural dan ada juga yang percaya bahwa mengenal Tuhan hanya bisa lewat firman-firman Tuhan dimana Dia memperlihatkan diri-Nya yang disebut dengan teologi wahyu.
Pada masa pramodern iman kepada Tuhan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi daripada nalar yang rasional. Firman-firman Tuhan menjadi sumber segala kebenaran yang harus diterima. Oleh karena itu, filsafat yang mengutamakan rasio (akal sehat) hanya dianggap sebagai saarana untuk memahami iman. Jadi dapat dikatakan filsafat “tunduk” pada keimanan pada Tuhan.
Akibat dari pemujaan terhadap konstitusi yang bernama agama maka timbullah penyalahgunaan. Penguasa dan tokoh agama mendapat kekuasaan yang mutlak. Hal ini didukung oleh ayat-ayat dalam kitab suci yang melegitimasi kekuasaan mereka. Sedangkan rakyat miskin menjadi pasrah pada penguasa dan agama karena dalam pewartaan kitab suci dikatakan bahwa nasib mereka adalah mutlak menderita. Sehingga mereka berada dalam belenggu penguasa dan orang suci yang mana gereja memihak padanya. Jadi, pada zaman pramodern spiritualitas orang-orang yang sebenarnya tinggi namun terbelenggu oleh sistem sosial politik yang salah menjadi tidak terbentuk karena keimanan dipaksakan oleh orang yang berkuasa.
Pada zaman modern muncul skeptisisme terhadap teologi yang luar biasa. Hal ini dikarenakan orang-orang sudah mengutamakan pemikiran rasional di atas keberterimaan terhadap doktrin-doktrin dan aturan dogmatis gereja, sebagai akibat dari renaissance atau aufklärung. Segala hal dipertanyakan secara rasional termasuk ajaran dan pernyataan-pernyataan teologis. Setelah menilai koherensi dan korespondensi dari teologi maka orang-orang menyimpulkan bahwa teologi tidak koresponden dengan realitas.
Penuntutan terhadap kebebasan dan otonomi manusia pada zaman modern membuat orang-orang juga harus melawan agama karena dalam aturan gereja kebebasan manusia tidak mutlak diberi kebebasan, semua orang harus mengisi hidupnya untuk menyembah Tuhan melalui gereja. Termasuk dalam hal ilmu pengetahuan manusia tidak diberi kebebasan. Sehingga terjadi pertentangan yang tekenal yaitu teori heliosentris yang ditolak gereja. Oleh karena itu, banyak orang yang kemudian memilih meninggalkan agama karena menginginkan kebebasan dan terlepas dari sistem sosial politik yang berasal dari Tuhan.
Pemujaan yang tinggi terhadap rasio dan ilmu pengetahuan pada zaman modern menunjukkan bahwa dunia dapat tetap berjalan tanpa adanya Tuhan. Walaupun kesimpulan ini belum dapat dipastikan, namun cukup mampu membuat masyarakat menjauhkan diri dari kepercayaan akan eksistensi Tuhan.
Hasil dari segala yang terjadi di masa modern adalah hilangnya tempat bagi spiritualitas di kehidupan masyarakat. Akibatnya muncullah fundamentalisme karena orang-orang yang fundamenta itu menafsirkan alkitab secara harfiah sehingga tidak tahu inti ajaran yang murni dari alkitab tersebut. Dampak dari fundamentalisme ini adalah destruksi dan kehidupan yang tidak toleran atau dehumanisasi.
Kondisi spiritualitas masyarakat yang terpuruk pada zaman modern kemudian ditentang oleh masyarakat zaman posmodern. Pemikiran rasional sebelumnya yang dianggap akan membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat ternyata justru membawa dampak negatif yang lebih besar.
Manusia yang dari dulu dianggap sebagai imago Dei atau “Citra Allah” masih dianggap sebagai makhluk yang paling istimewa di muka bumi. Namun pada zaman posmodern pandangan ini tidak menjadikan manusia bersifat antroposentris yang menganggap lingkungan, hewan dan tumbuhan disekitarnya tidak bernilai. Orang-orang memiliki penghargaan terhadap alam yang juga memiliki nilai. Bahkan muncul kaum ekologis egalitarian di zaman posmodern.
Kembalinya manusia pada kepercayaan akan sesuatu yang adi kodrati di zaman posmodern didukung oleh penemuan “gen Tuhan” yang membuat manusia membutuhkan keimanan. Sehingga spiritualitas manusia tumbuh lagi. Untuk itu agama dihidupkan lagi. Namun berbeda dengan zaman pramodern dimana agama melemahkan spiritualitas, di zaman ini agama dijadikan sebagai lembaga yang mengkondisikan spiritualitas agar bisa menjadi baik. Sedangkan spiritualitas dianggap untuk dimiliki oleh setiap orang karena spiritualitas itu universal hanya saja disalurkan melalui agama-agama yang berbeda.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa konsep kebenaran dan agama di zaman posmodern merupakan pengembalian kepercayaan kepada Tuhan dengan tetap mempertahankan kebebasan, rasionalitas, dan pengalaman yang diusahakan pada zaman modern. Di samping itu juga dikembalikan nilai-nilai spiritualitas zaman pramodern namun dikemas dalam konteks masyarakat sekarang. Hasilnya terdapat keterpaduan antara emosionalitas spiritual dengan kreativitas intelektual.